Header Ads

Cerita Wayang Gatotkaca Lahir


 Tersebutlah seorang raja raksasa bernama Prabu Kalapracona dari Kerajaan Kiskandapura. Pada suatu malam ia mimpi bertemu bidadari paling cantik di Kahyangan Suralaya, bernama Batari Supraba. Setelah bangun dari mimpinya, Prabu Kalapracona pun dilanda kasmaran dan ingin menjadikan bidadari tersebut sebagai istrinya.

Prabu Kalapracona segera menyampaikan niatnya kepada Patih Sekiputantra bahwa dirinya akan pergi ke Kahyangan Suralaya untuk melamar Batari Supraba. Patih Sekiputantra berkata bahwa tidak pantas jika rajanya yang berangkat sendiri ke sana. Sebagai menteri utama Kiskandapura, ia menawarkan diri untuk mewakili Prabu Kalapracona melamar bidadari tersebut kepada Batara Indra. Prabu Kalapracona setuju dan melepas keberangkatan Patih Sekiputantra. Ia pun berpesan entah bagaimana caranya Patih Sekiputantra harus bisa membawa pulang Batari Supraba, baik dengan cara halus ataupun dengan cara paksa. 

Demikianlah, Patih Sekiputantra pun berangkat menuju Kahyangan Suralaya dengan didampingi Ditya Abiriwi dan Ditya Wrahandana, beserta pasukan raksasa secukupnya.

BATARA INDRA MEMBICARAKAN KELAHIRAN RADEN TETUKA

Batara Indra di Kahyangan Suralaya dihadap para dewata, antara lain Batara Wrehaspati, Batara Citranggada, Batara Citrasena, Batara Citrarata, dan Batara Arjunawangsa. Dalam pertemuan itu hadir pula Batara Narada yang mendapat tugas dari Batara Guru di Kahyangan Jonggringslaka untuk menyerahkan pusaka kepada Raden Permadi yang sedang bertapa di Hutan Jatirokeh.

Batara Indra membenarkan bahwa putra angkatnya, yaitu Raden Permadi memang sedang bertapa di Hutan Jatirokeh memohon anugerah dewata. Kesatria Panengah Pandawa itu meminta diberi pusaka kahyangan untuk memotong tali pusar keponakannya yang bernama Raden Tetuka, yang sudah setahun ini belum juga putus. Betapa tekun Raden Permadi bertapa, membuat Kahyangan Suralaya dilanda hawa panas. Para bidadari pun merasa gerah dan kehausan, sehingga banyak di antara mereka yang meratap-ratap minta tolong.

Batara Indra bercerita bahwa setahun yang lalu Dewi Arimbi istri Raden Bratasena melahirkan seorang bayi berwajah tampan tapi memiliki taring. Bayi tersebut diberi nama Raden Tetuka yang merupakan titisan Arya Gandamana, kesatria tangguh dari Kerajaan Pancala yang dulu gugur dalam peristiwa Sayembara Dewi Drupadi. Pada saat kelahiran bayi tersebut, Dewi Drupadi ditugasi Prabu Puntadewa untuk memotong tali pusarnya tetapi gagal. Entah mengapa, tali pusar tersebut sangat ulet dan keras, tidak bisa diputus. Raden Nakula dan Raden Sadewa mencoba membantu tetapi gagal pula. Raden Bratasena terpaksa menggunakan Kuku Pancanaka yang terkenal tajam luar biasa, namun juga tidak berhasil memotong tali pusar putranya.

Setahun kini telah berlalu dan si bayi Raden Tetuka tetap terhubung dengan ari-arinya. Karena didorong rasa prihatin, Raden Permadi pun pergi bertapa memohon kepada dewata agar diberi pusaka yang mampu memotong tali pusar keponakannya. Itulah sebabnya Batara Indra pun mengirim permohonan kepada Batara Guru di Kahyangan Jonggringsalaka agar memberikan pusaka yang diinginkan Raden Permadi. Batara Guru pun mengabulkan permohonan tersebut. Batara Narada lalu diutus pergi untuk menyerahkan pusaka berupa Panah Kuntadruwasa dan Busur Wijayadanu kepada Pandawa nomor tiga tersebut.

Batara Indra gembira mendengar hal itu. Ia pun berniat mendampingi Batara Narada untuk menyerahkan kedua pusaka tersebut kepada Raden Permadi di Hutan Jatirokeh.

BATARA INDRA MENOLAK LAMARAN PATIH SEKIPUTANTRA

Belum sempat Batara Indra berangkat bersama Batara Narada, tiba-tiba datang Patih Sekiputantra dari Kerajaan Kiskandapura yang menyampaikan surat lamaran Prabu Kalapracona terhadap Batari Supraba. Batara Indra membaca surat tersebut dan merobek-robeknya. Dengan tegas ia katakan bahwa selamanya bangsa raksasa tidak pantas mempunyai istri bidadari. Ia pun memerintahkan Patih Sekiputantra agar segera pulang ke negaranya dan menyarankan Prabu Kalapracona untuk menikahi sesama bangsa raksasi saja.

Patih Sekiputantra menjawab bahwa dirinya telah mendapatkan wewenang dari rajanya untuk merebut paksa Batari Supraba apabila tidak dapat dilamar secara baik-baik. Batara Indra semakin marah dan memerintahkan Patih Sekiputantra menunggu di lapangan Repatkepanasan jika memang ingin mencoba kekuatan pasukan Dorandara.

Demikianlah, Patih Sekiputantra pun keluar dan bersiaga dengan kedua pendampingnya, yaitu Ditya Abiriwi dan Ditya Wrahandana. Batara Citranggada dan Batara Citrasena keluar menghadapi mereka dengan membawa pasukan Dorandara. Pertempuran pun terjadi. Tidak disangka kekuatan pihak raksasa sungguh dahsyat. Mereka mampu mendesak mundur para dewa hingga berlindung di balik gerbang Kori Selamatangkep.

Batara Narada merasa tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda. Ia pun pergi meninggalkan Kahyangan Suralaya untuk pergi menuju hutan di mana Raden Permadi bertapa. Adapun Batara Indra dan para dewa lainnya tetap tinggal di Kahyangan Suralaya untuk menjaga keamanan dari para raksasa pengacau tersebut.



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.